Singapura Dan Jerman Tersingkir, Ini 10 Negara Dengan Paspor Terkuat Di Dunia 2018 - Editor Lambar | editorlambar.com

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

Sabtu, 07 Juli 2018

Singapura Dan Jerman Tersingkir, Ini 10 Negara Dengan Paspor Terkuat Di Dunia 2018


EDITOR LAMBAR-Paspor Singapura akhir-akhir ini digadang sebagai paspor terkuat di dunia, namun tampaknya anggapan itu tak berlangsung lama,menurut sebuah penelitian baru, kini paspor Jepang-lah yang menjajaki peringkat pertama sebagai paspor paling kuat.

Dikutip Editor Lambar,Sabtu (7/7/2018), studi tersebut dilakukan terhadap negara-negara yang mengizinkan turis asing masuk wilayahnya tanpa visa.Lembaga yang melakukan survei, Henley & Partners', melaporkan bahwa warga Jepang dapat mengunjungi 189 dari 218 negara bebas visa, menyingkirkan Singapura dan Jerman yang 'hanya' 188 negara.

Sementara, paspor Australia menempati urutan keenam, lalu Yunani, dengan jumlah bebas visa 183 negara.Laporan Henley & Partners' juga mencatat bahwa perubahan terbaru terkait kebijakan visa membuat pamor negara-negara Asia naik, melejit ke peringkat teratas global.

Sementara itu, negara-negara di Wilayah Schengen secara otomatis menduduki puncak daftar. Ini merupakan dampak dari akses yang mereka buka ke Eropa. Negara-negara maju di Asia sudah mampu menyetarakannya dalam beberapa tahun terakhir berkat perdagangan internasional yang kuat dan hubungan diplomatik mereka," kata laporan tersebut.

Negara lain yang juga mengalami peningkatan pada tahun 2018 adalah Uni Emirat Arab. UEA menambah 38 negara tujuan bebas visa selama dekade terakhir. Paspor China juga merangkak dengan cepat, diikuti Australia dari 153 menjadi 183 negara.

Salah satu alasan perubahan tersebut karena Indonesia baru-baru ini mengubah persyaratan visanya bagi warga Australia,sehingga mereka bisa menginjakan kakinya di Tanah Air hingga 30 hari tanpa visa.

Data dari The Henley Passport Index didasarkan pada data dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional (International Air Transport Association).
Mereka mengungkapkan bahwa meski tidak banyak perubahan di negara-negara Eropa dan Amerika Utara, namun sejumlah kebijakan baru terkait imigrasi dan perbatasan telah diundangkan oleh negara-negara di Asia dan bekas Uni Soviet dalam beberapa bulan terakhir, serta di Afrika dan Karibia, ikut mempengaruhi. (Tim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad